Senin, 23 Juni 2014

TERJEMAHAN THE TALES OF BEEDLE THE BARD

(Diterjemahkan dari buku The Tales Of Beedle The Bard karya Jk Rowling)

5. KISAH 3 BERSAUDARA 

Dahulu kala hidup tiga orang bersaudara, mereka melanglang buana, melewati tempat-tempat sepi dan termaram. Sampai suatu hari tibalah ketiga bersaudara ditepi sebuah sungai yang lebar dan dalam, sehingga terlalu berbahaya untuk dilewati dengan berjalan kaki ataupun terlalu lebar diseberangi dengan berenang. Meskipun demikian ketiganya merupakan penyihir yang mahir, hanya dengan melambaikan tongkat sihir terbentuk sebuah jembatan dihadapan mereka.
Pada saat mereka sampai tengah jembatan, ketiganya dihalangi oleh mahluk berjubah. Ternyata mahluk tersebut adalah SANG KEMATIAN, ia marah karena merasa telah dicurangi oleh ketiganya. Biasanya orang-orang yang berniat menyeberangi sungai tersebut berakhir dengan tenggelam kedasar sungai. Dengan licik ia berpura-pura memberikan selamat atas kemampuan sihir ketiganya, dan mengatakan tiap-tiap orang akan mendapatkan hadiah atas kehebatan mereka mengalahkan kematian.
Sulung diantara mereka adalah seorang yang senang berduel, ia meminta sebuah tongkat sihir sakti yang pernah dibuat dimuka bumi. Tongkat sihir tersebut harus selalu memberikan kemenangan bagi pemiliknya, sebuah tongkat yang pantas karena telah mengalahkan kematian! Sang kematian mendekati pohon elder (semacam pohon arbei liar) yang terdapat dipinggir sungai, membuat sebuah tongkat sihir indah dari ranting pohon kemudian memberikan si Sulung tongkat tersebut.


Anak ke dua seorang yang sombong, berniat mempermalukan malaikat maut lebih jauh lagi, dan meminta kemampuan untuk menunda kematian. Sang kematian memungut sebuah batu dari dasar sungai yang deras tersebut, memberikan batu tersebut sambil berpesan batu tersebut mempunyai kemampuan untuk menghidupkan kembali orang yang telah meninggal dunia.
Kematian bertanya kepada si bungsu apa yang ia inginkan. Bungsu dari tiga bersaudara ini adalah seorang yang rendah hati dan bijaksana, ia tidak percaya dengan niat tulus sang kematian. Si bungsu meminta sesuatu yang dapat membuatnya pergi melanjutkan perjalanan tanpa diikuti oleh kematian. Sang kematian dengan enggan (karena sudah berjanji sebelumnya akan mengabulkan apapun permintaan mereka) memberikan jubah gaib yang dimilikinya.
Sang kematian menyingkir dan mempersilahkan mereka melanjutkan perjalanan. Ketiganya melanjutkan perjalanan sambil memperbincangkan kejadian yang baru mereka alami sambil mengagumi hadiah yang mereka dapat dari kematian. Sampai tiba saatnya ketiganya harus berpisah melanjutkan tujuan masing-masing.
Sulung terus melanjutkan perjalanan lebih dari seminggu sampai akhirnya mendapati desa yang sangat jauh, mencari seseorang yang pernah bertengkar dengannya. Dengan tongkat elder sebagai senjatanya, si sulung tidak akan kalah dalam pertarungan. Membiarkan lawannya yang mati tergeletak begitu saja diatas lantai. Kemudian ia menyewa sebuah losmen, disana si sulung menyombongkan diri bahwa ia tidak mungkin kalah karena tongkat sihir miliknya merupakan hadiah sang kematian.
Malamnya, seorang penyihir datang sambil mengendap-endap mendekati si sulung yang sedang tertidur dalam keadaan mabuk, penyihir tersebut menggorok lehernya kemudian mengambil tongkat Elder. Dan kematian datang menghampiri, mengambil si sulung sebagai miliknya.
Sementara itu, anak ke dua dari tiga bersaudara kembali kerumahnya dimana ia tinggal sendirian disana. Kemudian ia mengeluarkan batu kebangkitan, diletakkan diatas telapak tangannya kemudian diputar tiga kali. Tiba-tiba bayangan wanita yang dulu pernah hampir dinikahinya muncul dihadapannya.
Tetapi wanita pujaannya terlihat sedih dan dingin, seakan-akan ada sesuatu yang memisahkan mereka berdua. Sekalipun sang wanita hidup kembali, tetapi dunia ini bukanlah tempatnya dan terlihat sangat menderita. Sampai akhirnya anak ke dua menjadi putus harapan, kemudian bunuh diri demi menyusul orang yang ia cintai. Dan kematian datang untuk anak kedua.
Sang maut kemudian mencari si bungsu, bertahun-tahun mencari tanpa ada hasil. Ketika si bungsu sudah menjadi tua, ia melepas jubah pemberian malaikat maut dan menyerahkan jubah tersebut kepada anaknya. Si bungsu menyapa malaikat maut yang menemuinya dengan senang hati sebagaimana seseorang bertemu kawan lama. Malaikat maut dengan terus terang mengatakan bahwa posisi mereka seimbang dan si bungsu meninggal dengan tenang.

(penterjemahan ini dilakukan tanpa seizin penulis maupun penerbitnya dan tanpa tujuan komersil, jika ada pihak-pihak yang keberatan dengan terjemahan ini dapat menghubungi andy_hatman@yahoo.com kemudian selanjutnya kami akan menonaktifkan tulisan ini)

Thanks to : andy_hatman@yahoo.com


TERJEMAHAN THE TALES OF BEEDLE THE BARD

(Diterjemahkan dari buku The Tales Of Beedle The Bard karya JK Rowling)

4. JANTUNG BERBULU SANG PENYIHIR 

Jaman dahulu ada seorang penyihir muda tampan, berbakat, dan kaya raya. Ia melihat teman-temannya menjadi seperti orang bodoh hanya karena jatuh cinta, bahkan ada sampai kehilangan gairah hidup dan kehilangan harga diri mereka. Pemuda itu berhasrat tidak mau menunjukkan kelemahan macam itu sehingga dia menggunakan sihir hitam untuk mencegah dirinya jatuh cinta.
Tanpa disadari pemuda tersebut telah melangkah terlalu jauh, keluarga pemuda itu menertawakan usahanya menghindar dari cinta. Namun sang pemuda terlanjur bangga dan akan kepandaian serta kekuatannya untuk mengabaikan cinta. Ketika kedua orang tua penyihir itu meninggal dunia, dia sama sekali tidak merasakan kesedihan bahkan merasa terberkati karena kematian mereka. Sekarang ia seorang diri mengusai Kastil tersebut. Sang penyihir muda kemudian memindahkan kekayaan terhebatnya keruang bawah tanah.
Penyihir itu meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia pantas membuat orang lain iri karena kesendiriannya, hingga pada suatu hari sang penyihir mendengar pembicaraan dua pembantunya yang membuatnya sangat kecewa. Salah satunya menaruh kasihan padanya dengan kekayaan seperti sekarang ini belum juga mendapatkan seseorang yang dikasihi.
Pembantu lain menertawakannya karena dengan kekayaan seperti yang dimiliki penyihir muda saat ini tidak dapat menarik seseorang sebagai istrinya. Pembicaraan keduanya sangat menyakitkan hati sang penyihir. Kemudian ia memutuskan untuk mencari seorang istri, yang kemungkinan besar harus paling cantik agar orang-orang dapat mengaguminya, berasal dari keluarga penyihir yang sakti sehingga ia memiliki bakat yang sama seperti keluarganya, dan memiliki kekayaan setidaknya sama dengannya sehingga eksistensinya menjadi jelas.
Dibutuhkan waktu lama mendapatkan wanita sesuai dengan kriteria tersebut, namum sebuah keajaiban terjadi, satu hari setelah sang penyihir muda berketetapan mencari pendamping ia bertemu dengan seorang gadis penyihir yang kebetulan sedang mengunjungi keluarganya dilingkungan tersebut.
Wanita tersebut memiliki keahlian sihir yang mumpuni, memiliki kekayaan yang tidak dapt diragukan lagi serta kecantikannya membuat semua pria terpana, kecuali satu orang. Penyihir muda tidak merasa sedikitpun perasaan yang dimiliki orang lain.
Namun demikian ia menganggap gadis penyihir itu sebagai hadiah utama, penyihir laki-laki itu mengejarnya, meyakinkan semua orang yang dikenalnya bahwa ia telah berhasil merebut hati gadis tersebut. Tetapi gadis penyihir merasakan sikap kagum sekaligus aneh terhadap perhatian pemuda tersebut, ia merasakan sikap dingin dibalik kehangatan yang diperlihatkannya. Sang gadis tidak pernah bertemu dengan seorang pria yang begitu aneh. Keluarga gadis membesarkan hatinya bahwa mereka berdua adalah pasangan yang serasi dan menyatakan kesediaan mereka menerima undangan pesta yang akan diadakan di kastil sang pemuda.
Pada saat pesta diadakan, meja-meja dihiasi dengan perak dan emas, dilengkapi anggur terbaik yang pernah ada dan makanan yang lezat. Pemuda dan sang gadis duduk berdampingan dan pemuda tersebut membisikan syair-syair puisi yang ia sendiri sebenarnya tidak mengerti arti sesungguhnya. Sang gadis mendengarkan dengan seksama, dan akhirnya menjawab, “Engkau berbicara dengan baik, dan saya sangat senang atas perhatian yang diberikan hanya jika aku telah melihat hatimu!”
Sang pemuda tersenyum dan mengatakan tidak perlu khawatir akan masalah tersebut, kemudian ia membungkuk memberi salam hormat kemudian menuntun sang gadis mejauhi pesta tersebut menuju ruang bawah tanah yang terkunci tempat dia menyimpan rahasia terbesar miliknya. Disana pemuda menunjukkan sebuah kotak kristal, yang di dalamnya tersimpan sebentuk jantung yang berdetak.
Sudah lama sejak jantung tersebut terpisah dengan anggota tubuh yang lain, sudah tidak pernah memahami arti kecantikan, indahnya suara musik dan merasakan halusnya kulit. Sang gadis menjadi ketakutan melihat kenyataan tersebut, jantung tersebut telah menyusut dan ditutupi oleh bulu hitam dan panjang.

“Oh, apa yang telah engkau lakukan?” tanyanya. “Kembalikan itu ketempatnya semula, kumohon padamu!”
Sang pemuda melihat hal tersebut dapat menyenangkan hati sang gadis, kemudian ia mengayunkan tongkat sihir untuk membuka kotak kristal, membelah dadanya dan meletakkan jantung berbulu itu di tempatnya.
“Sekarang kau akan mengerti apa itu cinta sejati!”, sang gadis menangis sambil memeluk pemuda tersebut.
Sentuhan dari tangan putih lembut, suara nafas yang terdengar ditelinga, dan hawa yang keluar dari rambut emas sang gadis, semuanya laksana anak panah yang membangunkan jantung yang baru menyatu dengan tubuhnya tersebut. Jantung tersebut membesar dengan aneh seiring tarikan nafas pemuda. Buta dan liar dalam kegelapan tempat selama ini sang jantung bersemayam, dan hasrat menguat serta mulai melawan sang pemuda.
Para tamu undangan pesta mulai memperhatikan ketidak hadiran tuan rumah dan sang gadis. Awalnya mereka menganggap hal tersebut wajar, namun berjam-jam mereka mulai resah dan mencari-cari keduanya dikastil tersebut sampai akhirnya mereka menemukan ruang bawah tanah dan terlihat sang gadis terbujur kaku dilantai dengan dada robek terbuka.
Disampingnya mayat pemuda memegang jantung merah bersinar milik si gadis yang akan dimasukan kedalam dadanya. Tangan yang lain memegang tongkat sihir untuk mencabut jantung berbulu miliknya yang terus melawan tidak mau meninggalkan tubuhnya. Hal tersebut terjadi begitu cepat, sang pemuda akhirnya membuang tongkat sihir kemudian menyambar pisau perak dan mencabut jantungnya dari rongga dada agar ia tidak dikuasai jantung berbulu tersebut. Untuk beberapa saat dia berlutut penuh kemenangan dengan sebuah jantung di masing-masing tangannya. Sampai akhirnya terjatuh diatas mayat sang gadis dalam keadaan tak bernyawa.

(penterjemahan ini dilakukan tanpa seizin penulis maupun penerbitnya dan tanpa tujuan komersil, jika ada pihak-pihak yang keberatan dengan terjemahan ini dapat menghubungi andy_hatman@yahoo.com kemudian selanjutnya kami akan menonaktifkan tulisan ini)

 thanks to : andy_hatman@yahoo.com